Ada Sebelum Masa Agresi Militer, Patung Gajah Di baureno Punya Banyak Sejarah

Bojonegoro.click – Gajah bolong, begitulah nama taman yang ada di Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Usut punya usut ternyata dibalik Nama Gajah Bolong punya sisi cerita unik. Sebab Gajah Bolong diangkat dari sebuah patung gajah di halaman rumah dengan gaya arsitektur lawas yang ada di Dusun Mongkrong, Desa Baureno Kecamatan Baureno Bojonegoro.

Patung gajah yang nampak kokoh tersebut masih ada di halaman rumah almarhum bapak H.M. Soedjono, yang terletak di barat perempatan dan berhadapan dengan kantor kecamatan Baureno.

Saat dikonfirmasi oleh awak media, Cucu dari H.M. Soedjono, Ifeny Sandra menjelaskan asal mula sebutan gajah bolong tersebut sebab adanya  rumah tua tersebut. Dan sebelum dibeli oleh Mbah Jono (Sudjono) rumah tersebut adalah milik orang Cina yang bernama Mbah Jun Yok.

Rumah tersebut dibangun kurang lebih pada tahun 1930an, dan salah satu tukangnya adalah Mbah Singo Mardi, yaitu ayah dari Mbah Jono.

“Dulunya rumah ini dibangun dengan dinding pada bagian dalam berlapis porselen dari cina,” terangnya.

Sementara itu, Ifeny menerangkan bahwa jaman dahulu pada masa agresi militer Belanda ll, Belanda masuk hingga ke Daerah Babat. Dan mulai saat itu pemilik rumah  pulang ke Surabaya lalu rumah tersebut dijadikan sebagai markas tentara. Termasuk Mbah Jono saat itu juga ikut berjuang melawan para penjajah Belanda.

“Agar rumah tersebut tidak diambil alih oleh pihak Belanda, rumah bagian depan atau induk dan bagian timur dibakar dimasa itu,” jelasnya.

Ia juga menambahkam, saat masa agresi militer tersebut sudah berakhir, porselen yang menempel di dinding rumah tersebut dijarah oleh masyarakat sekitar. Ditambah lagi patung gajah yang ada di halaman rumah,  juga dipecah sebab masyarakat mengira ada perhiasan yang disimpan di dalam perut gajah, dan patung gajah menjadi Bolong.

Kemudian Mbah Jono membeli rumah bersejarah tersebut pada tahun 1960. Setelah kepemilikan berganti Mbah Jono melakukan banyak renovasi termasuk menambal perut patung gajah yang berlubang,  setelah melakukan renovasi dua tahun kemudian ditempati sekitar tahun 1962.

Sejak peristiwa Bolongnya perut gajah tersebut, Masyarakat pengguna kendaraan umum, yang hendak turun atau berhenti di perempatan Mongkrong Baureno selalu menyebut turun di Gajah Bolong,  meski patung gajah sudah diperbaiki dan sudah tidak bolong lagi.

“Itu cerita asli dari paman saya Dr.H. Munawan yang mendapat cerita langsung dari Kakek saya H.M. Soedjono kemudian diceritakan kepada saya,” pungkasnya.