Dua Tahun Bu Anna Memimpin Bojonegoro – Bagian 1

Warisan Sepanjang Zaman

BARU memimpin Bojonegoro dua tahun, Anna Mu’awanah telah menorehkan warisan atau “legacy” sepanjang masa. Warisan berupa penataan kota yang tidak akan dilupakan dalam sejarah pembangunan Bojonegoro. Mampu mengubah tata kota wilayah Bojonegoro yang terkonsep dan modern. Menyulap tata kota yang sebelumnya serbabiasa menjadi bergaya kota metropolis. Tata kota yang tak memiliki karakter, menjadi wajah kota yang bernilai. Wajah kota yang ramah lingkungan dan bisa diakses semua kalangan. Semua disulap dalam sekejap. Baru dua tahun memimpin Bojonegoro sejak 24 September 2018, Bu Anna sapaan akrabnya begitu melesat. Tak kenal berhenti berinovasi. Tak kenal lelah membangun perwajahan Bojonegoro menjadi kota yang berestetika. Ide-ide kreatifnya mampu membawa Bojonegoro menjadi kabupaten yang bersih.

Kebahagiaan Ibu Anna Mu'awanah di Salah Satu Desa Wisata Bojonegoro
Foto Dokumentasi Kebahagiaan Ibu Anna Mu’awanah di Salah Satu Desa Wisata Bojonegoro

Bu Anna seakan-akan menjawab pertanyaan dan kegelisahan C.L.M Panders dalam bukunya berjudul Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java Indonesia. Penulis asal Belanda itu menyebutkan bahwa kemiskinan Bojonegoro sangat mewabah. Panders mengilustrasikan wilayah Bojonegoro yang begitu terbelakang. Panders menganggap Bojonegoro sebagai kabupaten yang tandus, kekeringan, gersang, banjir, hingga penduduk miskin. Permukiman yang lusuh dan tak layak membuat Panders menggambarkan Bojonegoro kabupaten yang tertinggal. Penders mengilustrasikan bahwa kemiskinan di Bojonegoro pada 1900-1940 seperti kemiskinan oleh warga Rangkasbitung di Lebak dalam buku Max Havelaar karya Multatuli. Dimana-mana rakyat miskin.

[ Bersambung ]