Dua Tahun Bu Anna Memimpin Bojonegoro – Bagian 2

Tulisan Panders dalam buku berjudul bukunya berjudul Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java Indonesia, itu benar adanya. Bagaimana potret orang-orang Bojonegoro terdahulu yang miskin atas air ketika musim kemarau. Namun, berlimpah air ketika musim hujan. Kekeringan menjadi ancaman kehidupan dan kesehatan masyarakat Bojonegoro. Areal pertanian tandus dan kekurangan air memicu perekonomian masyarakat masuk ke jurang kemiskinan. Banjir menerjang dan menghantui masyarakat setiap tahun. Saluran drainase tak lancar. Sungai dan kali seakan tak berdaya. Sanitasi yang belum tertata memicu pola kehidupan bermasyarakat yang tak terkonsep membawa Bojonegoro, kala itu-seperti diungkapkan Panders, masyarakat mudah terjangkiti penyakit atau wabah. Kegelisahan Panders, akhirnya terjawab. Bu Anna sosok bupati yang tak kenal lelah. Sejak awal dilantik menjadi bupati Bojonegoro pada 24 September 2018, jejaknya tak pernah berhenti. Hidupnya telah diwakafkan untuk membangun Bojonegoro dan menyejahterakan masyarakat Bojonegoro.

Menit demi menit dilalui hanya untuk memikirkan kabupaten yang memiliki jumlah penduduk 1,3 juta jiwa. Tak pernah berhenti melangkah untuk membangun daerah memiliki luas yang sangat membentang, yakni 2.307,06 km2. Siang terik dilalui, malam gelap diterabas hanya untuk membangun daerah memiliki 419 desa. Tak mengenal waktu meski malam. Tak kenal membuang semenit pun meski malam tetap memikirkan penduduk Bojonegoro yang beragam dan kian terbuka transparansi. Kantuk, capek, hingga lelah hanya dirasakan dalam diri sendiri. Tak pernah mengeluh kepada yang lainnya. Selalu tegar dan senyum meski raga terkadang capek. Selalu hadir meski kadang jarum jam menunjukkan larut. Dini hari sudah terbangun lagi dan beraktivitas lagi.

Semua waktu dilalui seakanakan terwujud. Bojonegoro yang belum lama memperingati Hari Jadi ke 343 Bojonegoro (HJB) itu pada 20 Oktober lalu seakan mendapat kadonya. Hanya dalam sekejap, dua tahun kepemimpinannya, Bu Anna mampu membangun Bojonegoro, yang dulunya terbelakang. Sentuhan-sentuhan tangan kreatifnya itu telah membawa Bojonegoro merupakan daerah yang melesat menyamai kota-kota besar. Menjadi kota metropolis. Bersih, estetika, produktif, dan religius. Dari segi infrastruktur, bupati pertama perempuan di Bojonegoro ini telah membangun 250 kilometer (km) jalan cor. Dalam dua tahun sudah mampu membangun 250 kilometer jalan. Setara jarak Bojonegoro-Magelang.

Waw, betapa panjangnya jalan cor. Mungkin, menjadi satu-satunya kabupaten/kota dalam dua tahun membangun jalan cor atau rigid beton sepanjang itu. Desain jalannya juga menyamai jalan tol. Jalan cor sepanjang 250 km itu mulus dan menyambung. Saling terkoneksi. Itu baru dua tahun kinerja memimpin Bojonegoro. Bayangkan baru dua tahun sudah membangun infrastruktur sedemikian besar. Jalan yang sebelumnya berlubang, rusak, beragam genangan, dan memicu masyarakat jatuh ketika melintas, kini sudah lenyap di Bumi Rajekwesi ini. Bertahuntahun masyarakat mencibir infrastruktur, terutama jalan. Itu lumrah, karena memang kondisi infrastruktur Bojonegoro tertinggal dan jauh dari harapan. Kondisi jalan dikeluhkan pengendara melintas, tak henti dicibir oleh masyarakat. Namun, di tangan bupati yang memimpin sejak 24 September 2018 itu kini infrastruktur telah terjawab.

Puluhan tahun masyarakat bergulat dengan kondisi jalan berlubang, kini sudah tuntas. Puluhan tahun merasakan jalan geronjal, kini sudah merasakan jalan mulus. Puluhan tahun merasakan jalan jeglong, kini pengendara merasakan jalan lancar. Jembatan juga diperbaiki. Memperbaiki jalan tanpa memperbaiki jembatan seakan seperti sayur tanpa garam. Jalan dan jembatan itu satu kesatuan. Jika jalan lancar, jembatan tak ideal, tentu memicu kerusakan jalan. Karena itulah, Bu Anna sosok santri ini pun berusaha merombak jembatan. Jembatan berada di ruas jalan
cor diperlebar. Jalan yang sebelumnya lebar 4 meter, kini diperluas sekitar 7 meter.