Lestarikan Batik Bojonegoro, Yoyok Libatkan Warga Dander untuk Produksi

Bojonegorokab.go.id – Langkah pelestarian batik sebagai warisan budaya yang dilakukan Yoyok Handono cukup inspiratif. Ia memproduksi batik di rumahnya di Desa/Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro dan melibatkan warga sekitar untuk membantu produksi.

Yoyok menceritakan tujuan awal memproduksi batik adalah untuk memberdayakan masyarakat khususnya bagi warga Desa Dander dan sekitarnya. Selain itu, untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Awal produksi batik dilakukan pada 2007 secara berkelompok. Ia mencari formula yang tepat. Setelah bisa, Yoyok pun merekrut lima karyawan tetap dan dua pekerja lepas.

“Batik merupakan salah satu warisan budaya yang dimiliki Indonesia yang sudah diakui dunia. Eman sekali kalau warisan budaya ini tidak kita jaga keberlangsungannya. Kalau tidak kita lalu siapa? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” ucap Yoyok ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (11/12/2021).

Ia menambahkan, dengan adanya usaha batik ini, otomatis bisa menyerap tenaga kerja. Katanya, membatik pekerjaan yang dilakukan secara manual, tidak pabrikan. Produksi batik di rumahnya, awalnya hanya saat senggang saja atau part time. Namun kemudian banyak pemesan dan bisa full time.

“Dan setelah meraka punya skill, maka kami dorong untuk membuka usaha sendiri. Dengan harapan terbentuk sentra batik di Dander yang menjadi tujuan para pembeli batik,” lanjutnya.

Yoyok juga sudah lama memiliki mimpi tempat produksi batik bisa menjadi sentra edukasi dan wisata batik di Bojonegoro. Selain untuk menarik para wisatawan juga bisa memberikan edukasi tentang batik.

Sedang terkait proses produksi, pemasaran, nilai seni, filosofi, dan semua hal tentang batik, Yoyok ingin memberikan manfaat untuk masyarakat dengan usaha yang dibangun. Promosi dilakukannya melalui media online dan media sosial miliknya. Dengan hal tersebut, promosi sentra batik miliknya pun lebih cepat dan luas.

Yoyok menjelaskan, batik memiliki banyak jenis. Ada bermacam-macam dasar proses penempelan lilin yaitu batik cap, batik semi tulis, dan batik tulis. Sementara, berdasarkan pewarnaan ada batik kelengan, batik laseman, batik colet, batik modifikasi atau cap hutan. Produksi batik ini bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Lalu setelahnya mendapat pelatihan yang diselenggarakan oleh Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dan dikirim ke Lawean Solo untuk belajar membatik.

Kata Yoyok, saat ini, produksi bisa 20 lembar per hari tergantung pada tingkat kesulitan dan cuaca. Apabila tingkat kesulitan rendah maka bisa lebih dari 20 lembar per hari. “Tapi kalau kesulitannya tinggi dan cuaca kurang mendukung atau hujan, maka pada proses pewarnaan bisa mendapat kurang dari 20 lembar per hari,” imbuhnya,

Yoyok Handoyo hanya memproduksi Batik Bojonegoroan saja. Batik yang paling diminati adalah Batik Cap Thengul. Bahannya yaitu katun primisima dengan teknik modifikasi cap hutan. [nas/cs]